Makalah Daulah Mamluk di Mesir dan Safawi di Persia

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Dalam sejarah peradaban Islam setelah Khulafaurrasyidin Islam terbagi menjadi dinasti-dinasti yang terus berkembang pesat dan membawa pengaruh kepada peradaban dunia. Salah satunya yaitu Dinasti Mamaluk. Dinasti Mamalik ini merupakan dinasti pada masa keemasan Islam yang mampu mempengaruhi peradaban dunia.

Periode kemajuan Dinasti Mamalik dianggap sebagai zaman paling cemerlang dan paling makmur dalam sejarah Islam. Dengan berbagai kemajuan dan perkembangan, hal tersebut dapat tercapai berkat kepribadian dan wibawa sultan yang tinggi, solidaritas sesame militer yang kuat dan stabilitas negara yang aman. Akan tetapi, ketika factor-faktor tersebut menghilang, Dinasti mamalik sedikit demi sedikit akan mengalami kemunduran, terutama setlah kelompok Burji berkuasa. Pada kerajaan inilah Mesir dapat selamat dari kehancuran akibat serangan-serangan dari bangsa Mongol, baik serangan Hulagu Khan maupun Timur Lenk.

Safawi adalah salah satu dari ketiga kekhalifahan atau kerajaan Islam yang dikategorikan besar di dunia Islam pada abad pertengahan.Dua yang lainnya adalah kerajaan Usmani di Turki dan kerajaan Mughol di India. Kerajaan Safawi di sebelah barat berbatasan dengan kerajaan Usmani dan di sebelah Timur berbatasan dengan India yang pada waktu itu berada di bawah pemerintah kerajaan  Mughol. Kekhalifahan ini berpusat di Persia (Iran)

B.       Rumusan Masalah

1.      Bagaimana daulah mamluk (Mamalik)?

2.      Bagaimana Kerajaan Safawi di Persia?

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Daulah mamluk ( Mamalik)  di Mesir

1.      Sejarah Terbentuknya Dinasti Mamalik (Mamluk)

Kata Mamalik merupakan bentuk jamak dari Mamluk yang berarti budak. Dinasti ini disebut Mamalik karena didirikan oleh para budak. Orang-orang Mamalik awalnya adalah orang-orang yang menjadi tawanan Dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang kemudian dididik menjadi tentara. Dinastik ini berkuasa tahun 648-935 H/1250-1517 M di Mesir.

Sejarah Dinasti Mamalik bermula dari meninggalnya al-Malik al-Shalih, penguasa Ayyubiyah berakhir pada tahun 1249. Ketika al-Malik al-Shalih meninggal dunia, anaknya yang bernama Turansyah naik tahta menggantikannya sebagai sultan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat dengan tentara asal Kurdi daripada mereka. Pada tahun 1250 M, kaum Mamalik di bawah pimpinan Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah dan kemudian Aybak berhasil membunuh Musa. Turansyah dan Musa merupakan penguasa terakhir Dinasti Ayyubiyah.

Istri al-Malik al-Shalih yang bernama Syajarah al-Durr, seorang yang berasal dari kalangan mamalik atau budak juga berusaha mengambil alih pemerintahan. Kepemimpinan Syajarah al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan, karena terus mendapat pertentangan dari Dinasti Abbasiyah yang disebabkan pemimpinnya seorang perempuan. Syajarah al-Durr kemudian menikah dengan Aybak dan menyerahkan kepemimpinannya. Akan tetapi, setelah itu Aybak membunuh Syajarah al-Durr dan mengambil alih sepenuhnya kendali pemerintahan. Pada mulanya, Aybak mengangkat seorang keturunan penguasa Dinasti Ayyubiyah yaitu Musa sebagai sultan syar’I (hanya sebagai formalitas saja). Namun, kemudian Musa dibunuh oleh Aybak. Inilah akhir dari Dinasti Ayyubiyah di Mesir dan awal dari Dinasti Mamalik.

Kaum Mamalik di Mesir terdiri dari dua kelompok, pertama Mamluk Bahri, yaitu mereka yang dikaitkan dengan jazirah perkebunan yang membentang di sungai Nil, di mana mereka bermukim. Dan yang kedua Mamluk Burji, yaitu diambil dari benteng-benteng tempat mereka bermukim di Kairo.

2.      Pembentukan Pemerintahan

Sejarah dinasti mamalik bermula dari meninggalnya al-Malik al-Shalih, penguasa Ayyubiyah terakhir pada tahun 1249 M. Pada saat al-Shalih meninggal dunia, kematiannya dirahasiakan oleh istrinya, Sejar al-Dur, hal itu dilakukan karena Mesir sedang bertempur melawan Leuis IX yang mengirim pasukannya di Diniyath dan al-Manshuriah. Karena itu kekuasaan Ayyubiyah dipegang oleh janda al-Shalih untuk sementara waktu. Karena keadaan negara mengkhawatirkan, maka Sajar al-Dur meminta Tauransyah, anak al-Shalih dari ibu lain, untuk menyelamatkan negara dari serangan –serangan tentara salib.

Tetapi setelah Tauransyah berhasil mengalahkan pasukan salib, justru kemudian Sajar al-Dur membunuhnya dengan didukung oleh sebagian pengawal dari istana. Sehingga pada tanggal 2 Mei 1250 M, mereka dapat membunuh Tauransyah dan Shajar al-Dur memproklamasikan diri sebagai penguasa baru.

Meskipun Sajar al-Dur berhasil memimpin sisa kekuasaan Ayyubiyah, tetapi dia tidak mendapatkan legitimasi resmi dari khalifah di Baghdad. Khalifah memerintah untuk mengangkat sultan laki-laki, dan bila tidak dilakukan maka khalifah akan mengirimkan seorang sultan ke dinasti Ayyubiyah.

Kemudian Sajar al-Dur berinisiatif menunjuk Izzudin Aybek sebagai panglima perang sekaligus pengawal pribadinya. Dalam posisi ini Aybek kemudian menikahi Sajar al-Dur, ini memuluskan jalan bagi Aybek untuk mengambil alih jabatan sultan. Meskipun pengukuhannya sebagai sultan di Mesir mendapat legistimasi khalifah di Baghdad, namun kebijaksanaan ini menimbulkan konflik baru karena sebagian orang mamalik tidak setuju dengan diangkatnya Aybek sebagai sultan. Dan dengan menikahnya Sejar al-Dur dengan pengawalnya, Izzuddin Aybek, kemudian ia turun dari tahta dan sejak itu dinasti Ayyubiah beralih ke tangan orang mamalik. Namun demikian Sajar al-Dur tetap dianggap sebagai awal mula sejarah dinasti mamalik, karena Sajar al-Dur memang dari kalangan budak juga.

Dalam menjalankan roda pemerintahan ternyata Izzuddin lebih mendominasi kekuasaan selama tuju tahun. Semula Shajar al_Dur berharap tetap bisa  mengendalikan roda pemerintahan di balik layar. Tetapi kemudian setelah ia menikah dengan Aybek Shajar al-Dur dibunuh oleh Aybek, dan ia mengendalikan roda pemerintahan secara keseluruhan. Di masa-masa awal ini Dinasti Mamalik masih sibuk untuk stabilitas internal.

Kaum Mamalik yang memerintah di Mesir mereka dibedakan menjadi dua suku. Pertama Mamalik Bahri (648-792 H / 1250-1390 M). Kedua, Mamalik Burji (784-922 H / 1382-1517 M). Mamalik Bahri adalah budak-budak Turki yang didatangkan Malik Al-Saleh ke Mesir dalam jumlah besar setelah ia berhasil menduduki jabatan Sultan (1240-1249). Di mesir, mereka ditempatkan di barak-barak militer dekat sungai Nil, itulah sebabnya mereka diebut dengan Mamalik Bahri artinya budak laut. Adapun Mamalik Burji adalah budak-budak yang didatangkan dari Syirkas (turki) oleh Sultan Qawalun (1279-1290) karena ia curiga terhadap beberapa tokoh militer dari Mamalik Bahri yang dianggapnya dapat mengancam kelangsungan kekuasaannya. Mereka ditempatkan di Menara-menara benteng (Burji). Terdapat beberapa orang yang menonjol dari kalangan Mamalik Bahri, antara lain adalah Izzudin Aybek, Qutuz, Baybars, dan Al-Mansur Qolawun. Qutuz dan Baybars, dua orang tokoh pimpinan Mamalik Bahri yang berjasa dan mengukir sejarah gemilang Islam dengan kemampuan mereka melumpuhkan tentara Mongol di Ain Jalut 3 September 1260 M. Ketika dinasti Mamalik mampu menghalau pasukan Mongol, maka negeri Mesir menjadi tumpuan harapan umat Islam di sekitarnya. Penguasa-penguasa Syiria menyatakan setia kepada penguasa Mamalik.

Qutuz menjadi penguasa dinasti Mamalik menggantikan anak Aybek yang mengundurkan diri pada tahun 1259 M. Pada masa kekuasaanya itulah Baybars yang mengasingkan diri ke Syiria sejak masa Aybek karena tidak senang dengan kepemimpinan Aybek kembali lagi di zaman Qutuz. Dan prestasi monumental di bidang kemiliteran dua orang ini memang tampak sekali dalam mengalahkan pasukan Mongol di Ain Jalut, di saat negeri Islam yang lain merasa kesulitan betul untuk dapat mengalahkan pasukan Mongol.

3.      Raja-raja yang Berkuasa

Raja-raja yang berkuasa pada masa Dinasti Mamluk Bahri :

a.       Syajarah al-Durr (648 H/1250 M)

b.      Izzudin Ayba

c.       Nur al-Din Ali

d.      Saif al-Din Quthuz

e.       Zhahir Baybars

f.       Sa’id Barakah

g.       ‘Adil Badrudin Salamisy

h.      Saifuddin Qalawun

i.        Khalil al-Asyraf

j.        Al-Nashir Muhammad

k.       ‘Adil Kitbugha

l.        Manshur Lajin

m.    Al-Nashir Muhammad ibn Qalawun

n.      Al-Mudhaffar Baybars II Abi Syankir

o.      Al-Nashir Muhammad ibn Qalawun

p.      Al-Manshur Abu Bakar ibn Muhammad

q.      Asyraf Kazak (Qujuq) ibn Muhammad

r.        Al-Nashir Ahmad ibn Muhammad

s.       Al-Shalih Ismail ibn Muhammad

t.        Al-Kamil Sha’ban

Raja-raja yang berkuasa pada masa Dinasti Mamluk Burji :

a.       Al-Zhahir Sayf al-Din Barquq

b.      As-Nashir al-Din Faraj

c.       Al-Manshur ‘Izz al- Din Faraj

d.      An-Nashir Farj

e.       Al-Adil al-Musa’im

f.       Al-Muayyad syaikh Al-Mahmudy

g.      Al-Muzhaffar Ahmad

h.      As-Zhahir Sayf al-Din Tatar

i.        Ash-Shalih Nashir al-Din Muhammad

j.        Al-Asyraf Sayf al-Din Barisbay

k.      Al-Aziz Jamal al-Din Yusuf

l.        Azh-Zhahir Sayf al-Din Jaqmaq

m.    Al-Manshur Fakhr al-Din Utsman

n.      Al-Asyfar Sayf al-Din Inal

o.      Al-Mu’ayyad Syihab al-Din Ahmad

p.      Azh-Zhahir Sayf al-Din Khusyqadam

q.      Azh-Zhahir Sayf al-Din Yalbay

r.        Azh-Zhahir Timurbugha

s.       Al-Asyraf Saifuddin Qaytabai

t.        An-Nashir Muhammad

4.      Kemajuan-kemajuan yang Dicapai Dinasti Mamalik

Selama masa pemerintahannya, Dinasti Mamalik telah mencapai berbagai kemajuan penting di antaranya adalah konsolidasi pemerintahan, perekonomian, ilmu pengetahuan, militer, kesenian, dan arsitektur.

a.       Bidang Pemerintahan

Untuk menjalankan pemerintahan dalam negeri, Baybars mengangkat anggota militer sebagai elit politik. Pada tahun 1263 M Baybars mengangkat hakim kepala untuk masing-masing empat mazhab hukum yang utama, seorang syeikh untuk kalangan sufi dan seorang pemimpin untuk sekumpulan keturunan Nabi. Di samping pengangkatan hakim ini juga diangkat administrator hukum, profesor, imam sholat, dan pejabat keagamaan muslim lainnya. Rezim Mamalik ini menggaji semua tokoh-tokoh agama dengan gaji yang memadai, juga subsidi diberikan kepada madrasah mereka sehingga semua kegiatan keagamaan masuk ke dalam sebuah sistem birokrasi negara.

b.      Bidang Militer

Dinasti Mamalik terkenal ketangguhan pasukan militernya yang sebagian besar berasal dari pelaut yang kuat, kekar, mempunyai tubuh yang tegap, dan disiplin. Sejak dari usia 10-20 tahun mereka dilatih dan dididik melalui tahapan pendidikan militer dari jenjang militer paling awal beralih menjadi pengawal sultan, kemudian menjadi panglima, dan yang terakhir menjadi sultan. Dalam Dinasti Mamalik tidak dikenal sistem kekuasaan secara turun temurun. Tetapi siapa yang berprestasi dan pantas akan diangkat menjadi sultan.

c.       Bidang Ekonomi

Pada saat Dinasti Mamalik berkuasa, Mesir dan Syiria mengalami kemakmuran ekonomi yang pesat. Pertumbuhan ini berdampak pada perkembangan pesat di bidang seni dan budaya, dengan prestasi-prestasi khusus di bidang-bidang seperti arsitektur, keramik dan karya arsitek dalam logam, dan lain-lain. Selain itu, posisi Kairo yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah dan kota-kota sepanjang pesisir selatan ke Eropa menjadi sangat penting, sehingga hubungan dengan Timur Barat berada di bawah penguasaan Mamalik. Letak dan kondisi geografis yang strategis ini yang menopang ekonomi Mesir mencapai tingkat pertumbuhan yang pesat.

d.      Bidang Ilmu Pengetahuan

Sejak jatuhnya Bani Abbas oleh Hulagu Khan, banyak ilmuan melarikan diri menuju Mesir dan Syiria. Dengan demikian maka pusat kemajuan ilmu pengetahuan beralih dari Bagdad ke Mesir. Sultan Baybars selain dikenal sebagai ahli perang juga orang yang cinta ilmu pengetahuan. Di bidang kedokteran ada ilmuan terkemuka Abul Hasan Ali bin al-Nafis yang menemukan sistem peredaran darah, Fadail Ibn al-Naqid seorang ahli mata dan optical dengan karyanya “Mujarabat”. Sedangkan di bidang ilmu agama, ada beberapa intelektual terkemuka antara lain Jalal al-Din al-Suyuti, al-Tabary, sejarawan, dan mufassir. Di bidang hadits muncul nama Ibnu hajar al-Asqalani.

e.       Bidang Arsitektur

Bidang arsitektur juga mengalami kemajuan, banyak arsitek yang didatangkan ke negeri Mesir untuk membangun sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah. Ada juga bangunan lain yang didirikan yaitu museum, perpustakaan, vila-vila, kubah, dan juga menara masjid. Universitas al-Azhar yang telah lama ditutup kegiatan intelektualnya karena perbedaan teologis, di masa Dinasti Mamalik dibuka kembali untuk belajar.

5.      Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Mamalik

Dinasti Mamalik setelah mengalami kejayaan-kejayaan baik di bidang kemiliteran, ekonomi, intelektual, dan arsitektur kemudian mulai mengalami kemunduran. Kemunduran dan kehancuran Dinasti Mamalik disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a.       Faktor Internal

Faktor internal yang dimaksud dalam Dinasti Mamalik adalah perpecahan karena faktor perebutan kekuasaan di antara keluarga sultan. Sultan Qolawun mempunyai tiga orang anak yaitu Ila’uddin, Khalil, dan al-Nasir. Seharusnya, Ila’uddin yang menggantikan ayahnya, tetapi yang terjadi adalah Khalil melakukan pembunuhan terhadap Ila’uddin dan ia yang kemudian naik tahta. Dan ini berlanjut pada sultan-sultan sesudahnya. Ketika al-Nasir berkuasa, pungutan pajak yang sangat memberatkan rakyat juga mulai dilakukan, begitu pula komoditi gula, lada yang berasal dari India dimonopoli oleh sultan. Kemerosotan ekonomi Dinasti Mamalik semakin dilengkapi dengan beralihnya jalur dagang Timur-Barat dan Laut Tengah ke Tanjung Harapan, yang ditemukan oleh Vasco Da Gama tahun 1498.

b.      Faktor Eksternal

Di akhir periode Dinasti Mamalik muncul sebuah kekuatan baru yaitu Dinasti Turki Usmani. Situasi tegang hubungan politik antara Turki dengan Mamalik terjadi akibat dari tindakan Qait Bay yang melindungi saudara Bayazid II, yang berkuasa di Turki (1481-1512), yang melarikan diri dari Turki ke Mesir. Pada saat yang bersamaan, muncul pula Dinasti Syafawi di Persia (1502-1736) yang secara resmi bermazhab Syiah Itsna Asyariah, bersikap frontal terhadap Dinasti Usmani yang menganut mazhab sunni di Turki. Perbedaan aliran mazhab dan ambisi ingin menguasai daerah yang lebih luas, menyebabkan kedua dinasti ini sejak awal sudah diwarnai permusuhan.

Ketika terjadi perang antara Turki Usmani dengan Mamalik di sekitar Marj Dabiq (1516), beberapa amir yang terlibat di dalam pertempuran itu berkhianat termasuk Khair Bay seorang amir Aleppo yang dipercainya untuk mengatur siasat perang oleh al-Ghuri. Akhirnya kekalahan telak dialami Tumam Bay (1516-1517), sebagai pengganti al-Ghuri, tentara Turki sudah menembus hingga ke selatan Mesir. Pertempuran terjadi pada tanggal 22 Juni 1517 antara pasukan Tumam Bay dengan pasukan Sultan Salim di luar kota Kairo yang berakhir dengan kemenangan dipihak Salim. Dengan kekalahan ini, berakhirlah kekuasaan Dinasti Mamalik yang telah berkuasa di Mesir sekitar dua setengan abad.

B.       Kerajaan Safawi di Persia

1.      Kerajaan Safawi

Ketika kerajaan Utsmani sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Safawi di Persia baru berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering bentrok dengan Turki Utsmani.

Berbeda dari dua kerajaan besar Islam lainnya (Utsmani dan Mughal), kerajaan Safawi menyatakan Syi’ah sebagai madzhab negara. Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Utsmani. Nama Safawi diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama tersebut terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.

Dalam kecenderungan memasuki dunia politik dan perluasan politik keagamaan, kerajaan Safawi mendapat wujud konkretnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), dalam konflik tersebut Juneid kalah dan diasingkan kesuatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapatkan perlindungan dari Diyar Bakr, Al-Koyunlu (domba putih) yang dinggal di istana Uzun Hasan. Kemudian ia beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan, ia juga mempersunting saudara perempuan Uzun Hasan. Pada saat ia mencoba merebut Sircassia (1460 M), ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut.

Ketika itu anak Juneid, Haidar, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar mengawini salah seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini lahirlah Ismail yang dikemudian hari menjadi pendiri kerajaan safawi di Persia. Gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh Al Koyunlu. Padahal, Safawi adalah sekutu dari Koyunlu. Ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasuka Sirwan, Al Koyunlu mengirim bantuan militer kepada Sirwan sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.

Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentara untuk menuntut balas atas kematian ayahnya terutama terhadap Al Koyunlu. Tetapi Ya’kub pemimpin  Al Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan ali bersama saudaranya, Ibrahim, Ismail, dan Ibunya, di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra makhota Al Koyunlu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Rustam dapat dikalahan. Ali bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi tidak lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan ini (1494 M).

Kepemimpinan gerakan safawi, selanjutnya berada ditangan Ismail. Pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash (pasukan baret merah) menyerang dan mengalahkan Al Koyunlu di Sharur dan memasuki serta menaklukkan Tabriz, ibukota Al Koyunlu, di Kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama dinasti Safawi. Ia juga disebut Ismail I.

Ismail I berkuasa selama 23 tahun, sepuluh tahun pertama ia dapat meluaskan wilayah kekuasaan ke berbagai daerah. Pada tahun 1503 M. Ia berhasil menghancurkan sisa-sisa kekuatan Al-Koyunlu di Hamadan. Tahun 1504 M ia menguasai provinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd. Tahun 1505-1507 M. Ia menguasai Diyar Bakr. Tahun 1508 M, menguasai Baghdad dan daerah barat daya Persia. Tahun 1509 M, menguasai Sirwan. Tahun 1510 M, mengalahkan Syaibak Khan, keturunan Jenghis Khan, dan menguasai Khurasan, Heart dan Merv. Dalam tempo sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Persia dan bagian Timur Bulan Sabit Subur ( Fertile Crescent) yaitu wilayah di Asia membentang dari laut Tengah melalui daerah antara sungai Tigris dan sungai Eufrat hingga teluk Persia.

Peperangan  dengan Turki Utsmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tabriz. Ismail menjumpai saingan saingan kepala batu yaitu Sultan Salim I dari Turki. Peperangan ini, berasal dari kebencian Salim dan pengejaran terhadap seluruh umat muslim di Syi’ah di daerah kekuasaannya. Fanatisme Sultan Salim memaksanya untuk membunuh 40.000 orang yang didakwah setelah mengingkari ajaran-ajaran sunni. Dalam peperangan ini Ismail mengalami kekalahan. Namun, kerajaan Safawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Utsmani ke Turki karena trejadi perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya.

Peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Safawi dalam keadaan lemah.

Kondisi memperihatinkan ini baru bisa di atasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I, naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588 sampai dengan 1628 M.[9] langkah-langkah-langkah yang di tempuh Abbas I dalam rangka memulihkan politik kerajaan Safawi adalah :

a.        Mengadakan pembenahan administrasi dengan cara pengaturan dan pengontrolan dari pusat.

b.        Pemindahan ibukota ke Isfahan.

c.        Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qiziblash atas kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang aggotanya terdiri atas budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak Raja Tamh I.

d.       Mengadakan perjanjian perdamaian dengan Turki Utsmani.

e.        Berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pada khotbah Jum’at.

Usaha-usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi kuat kembali. Setelah itu Abbas I muai memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaan yang hilang. Pada tahun 1602 M, pasukan Abbas I berhasil menguasai Tabriz, Sirwan, dan Baghdad, sedangkan kota-kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis dapat dikuasai  tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan merubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.

2.      Kemajuan-kemajuan Kerajaan Safawi

Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Ia berhasil mengatasi gejolak politik yang mengganggu stabilitas negara, dan sekaligus ia berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan yang sebelumnya lepas tersebut oleh kerajaan Utsmani. Berikut kemajuan-kemajuan yang ditorehkan selama Abbas I memegang kekuasaan kerajaan Safawi :

a.       Bidang Ekonomi

Bukti nyata perkembangan perekonomian Safawi adalah dikuasainya Kepulauan Hurmusz dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas pada masa Abbas I. Maka salah satu jalur dagang menghubungkan antara Timur dan Barat sepenuhnya menjadi pemilik kerajaan safawi. Disamping di sektor perdagangan, kerajaan safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Fortille crescent).

b.      Bidang Ilmu Pengentahuan

Bangsa persia dalam sejarah islam dianggap berjasa besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Maka tidak mengherankan apabila kondisi tersebut terus berlanjut, sehingga muncul ilmuan seperti Baha al-Din Asy-syaerozi, Sadar al-Din  Asy-Syaerozi, Muhammad al-Baqir al-Din ibn Muhammad Damad, masing-masing ilmuan di bidang filasafat, sejarah, teologi, dan ilmu umum.

c.       Bidang seni

Kemajuan seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah ibukota kerajaan ini, sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang di atas Zende Rud dan istana Chihilsutun kota Isfahan turut diperindah dengan kebun wisata.`       

3.      Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi

Sepeninggal  Abbas I kerajaan Safawi berturut-turut di perintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman ( 1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmaps II (1722-1732 M), dan Abbas III (1733-1736 M). Pada masa-masa raja tersebut, kondisi kerajaan safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang tetapi malah memperlihatkan kemunduranyang akhirnya membawa kepada kehancuran.

Pada saat kedudukan Sulaiman digantikan oleh Shah Husain. Para ulama  Syi’ah mendapatkan kekuasaan dan sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afganistan sehingga mereka memberontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan dinasti Safawi.

Selain itu diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah konflik berkepanjangan dengan kerajaan Turki Utsmani. ketika mencapai kedamaian pada masa Abbas I, tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut dan tidak ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan besar islam itu.

Sebab lainnya yaitu dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi. Seperti Sulaiman yang pecandu berat narkotika serta kehidupan malamnya. Begitu pula degan Sultan Husein.

Penyebab penting lainnya yaitu karena pasukan Gulham tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat kita ketahui bahwa kata Mamalik merupakan bentuk jamak dari mamluk yang bararti budak. Dinasti ini disebut dengan mamalik karena memang didirikan oleh para budak. Orang-orang mamalik itu awalnya adalah mereka yang menjadi tawanan dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang kemudian dididik menjadi tentara. Dinastik ini berkuasa tahun 648-935 H/1250-1517 M di Mesir. Kaum Mamalik yang memerintah di Mesir mereka dibedakan menjadi dua suku. Pertama Mamalik Bahri (648-792 H/1250-1390 M). Kedua, Mamalik Burji (784-922 H / 1382-1517 M).

Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Utsmani. Nama Safawi diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama tersebut terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.

B.       Saran

Demikianlah tugas penyusunan makalah “Dinasti Mamalik di Mesirdan Kerajaan Safawi di Persia”. Harapan  adanya makalah ini, bisa menjadikan kita untuk lebih memahami tentang periode Dinasti Mamalik di Mesir. Serta dengan harapan semoga dapat dipahami dan bermanfaat bagi para pembaca. Kritik dan saran sangat kami harapkan, mengingat makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.



 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Din Muhyl ibn Abd al-zahir, 1961, Tasyrif al-Ayyum, wa al-Ushul fi Sirah al-Malik al-Mansur, Wt Irsad, Mesir.

Anonim, Makalah Sejarah Peradaban Islam tentang Dinasti Mamluk, diakses

Fu’adi Imam, 2012, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, Teras, Cet 1, Yogyakarta.

Halim Abd. ’Uwais, 1990, Analisa Daulah-Daulah Islam, Pustaka Mantik, Penterjemah: Yudiancs, Solo.

Khoiriyah, 2012, Reorientasi Warisan Sejarah Islam, Teras, Cet 1, Yogyakarta.

Nasution Syamruddin, 2013, Sejarah Peradaban Islam, Yayasan Pusaka, Riau.

Nur Abdullah, 2005, Dinasti Mamalik di Mesir, Jurnal Hunafa, Vol. 2, No. 2.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PERANA GURU DI SEKOLAH DAN MASYARAKAT

MAKALAH UKURAN PENYEBARAN DATA (RANGE, VARIAN, DAN STANDAR DEVIASI)

MODUL AJAR KURIKULUM MERDEKA BAB 3: MUNAFIK DAN KERAS HATI TAK AKAN PERNAH MAJU