Makalah Daulah Mamluk di Mesir dan Safawi di Persia
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam
sejarah peradaban Islam setelah Khulafaurrasyidin Islam terbagi menjadi
dinasti-dinasti yang terus berkembang pesat dan membawa pengaruh kepada
peradaban dunia. Salah satunya yaitu Dinasti Mamaluk. Dinasti Mamalik ini
merupakan dinasti pada masa keemasan Islam yang mampu mempengaruhi peradaban
dunia.
Periode
kemajuan Dinasti Mamalik dianggap sebagai zaman paling cemerlang dan paling
makmur dalam sejarah Islam. Dengan berbagai kemajuan dan perkembangan, hal
tersebut dapat tercapai berkat kepribadian dan wibawa sultan yang tinggi,
solidaritas sesame militer yang kuat dan stabilitas negara yang aman. Akan
tetapi, ketika factor-faktor tersebut menghilang, Dinasti mamalik sedikit demi
sedikit akan mengalami kemunduran, terutama setlah kelompok Burji berkuasa.
Pada kerajaan inilah Mesir dapat selamat dari kehancuran akibat
serangan-serangan dari bangsa Mongol, baik serangan Hulagu Khan maupun Timur
Lenk.
Safawi adalah salah satu dari ketiga
kekhalifahan atau kerajaan Islam yang dikategorikan besar di dunia Islam pada
abad pertengahan.Dua yang lainnya adalah kerajaan Usmani di Turki dan kerajaan
Mughol di India. Kerajaan Safawi di sebelah barat berbatasan dengan kerajaan
Usmani dan di sebelah Timur berbatasan dengan India yang pada waktu itu berada
di bawah pemerintah kerajaan Mughol. Kekhalifahan ini berpusat di Persia
(Iran)
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
daulah mamluk (Mamalik)?
2. Bagaimana
Kerajaan Safawi di Persia?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Daulah
mamluk ( Mamalik) di Mesir
1. Sejarah
Terbentuknya Dinasti Mamalik (Mamluk)
Kata
Mamalik merupakan bentuk jamak dari Mamluk yang berarti budak. Dinasti ini
disebut Mamalik karena didirikan oleh para budak. Orang-orang Mamalik awalnya
adalah orang-orang yang menjadi tawanan Dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh
Shalahuddin al-Ayyubi yang kemudian dididik menjadi tentara. Dinastik ini
berkuasa tahun 648-935 H/1250-1517 M di Mesir.
Sejarah
Dinasti Mamalik bermula dari meninggalnya al-Malik al-Shalih, penguasa
Ayyubiyah berakhir pada tahun 1249. Ketika al-Malik al-Shalih meninggal dunia,
anaknya yang bernama Turansyah naik tahta menggantikannya sebagai sultan.
Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat dengan tentara
asal Kurdi daripada mereka. Pada tahun 1250 M, kaum Mamalik di bawah pimpinan
Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah dan kemudian Aybak berhasil
membunuh Musa. Turansyah dan Musa merupakan penguasa terakhir Dinasti
Ayyubiyah.
Istri
al-Malik al-Shalih yang bernama Syajarah al-Durr, seorang yang berasal dari
kalangan mamalik atau budak juga berusaha mengambil alih pemerintahan.
Kepemimpinan Syajarah al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan, karena terus
mendapat pertentangan dari Dinasti Abbasiyah yang disebabkan pemimpinnya
seorang perempuan. Syajarah al-Durr kemudian menikah dengan Aybak dan
menyerahkan kepemimpinannya. Akan tetapi, setelah itu Aybak membunuh Syajarah
al-Durr dan mengambil alih sepenuhnya kendali pemerintahan. Pada mulanya, Aybak
mengangkat seorang keturunan penguasa Dinasti Ayyubiyah yaitu Musa sebagai
sultan syar’I (hanya sebagai formalitas saja). Namun, kemudian Musa
dibunuh oleh Aybak. Inilah akhir dari Dinasti Ayyubiyah di Mesir dan awal dari
Dinasti Mamalik.
Kaum
Mamalik di Mesir terdiri dari dua kelompok, pertama Mamluk Bahri, yaitu mereka
yang dikaitkan dengan jazirah perkebunan yang membentang di sungai Nil, di mana
mereka bermukim. Dan yang kedua Mamluk Burji, yaitu diambil dari
benteng-benteng tempat mereka bermukim di Kairo.
2. Pembentukan
Pemerintahan
Sejarah
dinasti mamalik bermula dari meninggalnya al-Malik al-Shalih, penguasa
Ayyubiyah terakhir pada tahun 1249 M. Pada saat al-Shalih meninggal dunia,
kematiannya dirahasiakan oleh istrinya, Sejar al-Dur, hal itu dilakukan karena
Mesir sedang bertempur melawan Leuis IX yang mengirim pasukannya di Diniyath
dan al-Manshuriah. Karena itu kekuasaan Ayyubiyah dipegang oleh janda al-Shalih
untuk sementara waktu. Karena keadaan negara mengkhawatirkan, maka Sajar al-Dur
meminta Tauransyah, anak al-Shalih dari ibu lain, untuk menyelamatkan negara
dari serangan –serangan tentara salib.
Tetapi
setelah Tauransyah berhasil mengalahkan pasukan salib, justru kemudian Sajar
al-Dur membunuhnya dengan didukung oleh sebagian pengawal dari istana. Sehingga
pada tanggal 2 Mei 1250 M, mereka dapat membunuh Tauransyah dan Shajar al-Dur
memproklamasikan diri sebagai penguasa baru.
Meskipun
Sajar al-Dur berhasil memimpin sisa kekuasaan Ayyubiyah, tetapi dia tidak
mendapatkan legitimasi resmi dari khalifah di Baghdad. Khalifah memerintah
untuk mengangkat sultan laki-laki, dan bila tidak dilakukan maka khalifah akan
mengirimkan seorang sultan ke dinasti Ayyubiyah.
Kemudian
Sajar al-Dur berinisiatif menunjuk Izzudin Aybek sebagai panglima perang
sekaligus pengawal pribadinya. Dalam posisi ini Aybek kemudian menikahi Sajar
al-Dur, ini memuluskan jalan bagi Aybek untuk mengambil alih jabatan sultan.
Meskipun pengukuhannya sebagai sultan di Mesir mendapat legistimasi khalifah di
Baghdad, namun kebijaksanaan ini menimbulkan konflik baru karena sebagian orang
mamalik tidak setuju dengan diangkatnya Aybek sebagai sultan. Dan dengan
menikahnya Sejar al-Dur dengan pengawalnya, Izzuddin Aybek, kemudian ia turun
dari tahta dan sejak itu dinasti Ayyubiah beralih ke tangan orang mamalik.
Namun demikian Sajar al-Dur tetap dianggap sebagai awal mula sejarah dinasti
mamalik, karena Sajar al-Dur memang dari kalangan budak juga.
Dalam
menjalankan roda pemerintahan ternyata Izzuddin lebih mendominasi kekuasaan
selama tuju tahun. Semula Shajar al_Dur berharap tetap bisa mengendalikan
roda pemerintahan di balik layar. Tetapi kemudian setelah ia menikah dengan
Aybek Shajar al-Dur dibunuh oleh Aybek, dan ia mengendalikan roda pemerintahan
secara keseluruhan. Di masa-masa awal ini Dinasti Mamalik masih sibuk untuk
stabilitas internal.
Kaum
Mamalik yang memerintah di Mesir mereka dibedakan menjadi dua suku. Pertama
Mamalik Bahri (648-792 H / 1250-1390 M). Kedua, Mamalik Burji (784-922 H /
1382-1517 M). Mamalik Bahri adalah budak-budak Turki yang didatangkan Malik
Al-Saleh ke Mesir dalam jumlah besar setelah ia berhasil menduduki jabatan
Sultan (1240-1249). Di mesir, mereka ditempatkan di barak-barak militer dekat
sungai Nil, itulah sebabnya mereka diebut dengan Mamalik Bahri artinya budak
laut. Adapun Mamalik Burji adalah budak-budak yang didatangkan dari Syirkas
(turki) oleh Sultan Qawalun (1279-1290) karena ia curiga terhadap beberapa
tokoh militer dari Mamalik Bahri yang dianggapnya dapat mengancam kelangsungan
kekuasaannya. Mereka ditempatkan di Menara-menara benteng (Burji). Terdapat
beberapa orang yang menonjol dari kalangan Mamalik Bahri, antara lain adalah Izzudin Aybek, Qutuz, Baybars, dan Al-Mansur
Qolawun. Qutuz dan Baybars, dua orang tokoh pimpinan Mamalik Bahri yang berjasa
dan mengukir sejarah gemilang Islam dengan kemampuan mereka melumpuhkan tentara
Mongol di Ain Jalut 3 September 1260 M. Ketika dinasti Mamalik mampu menghalau
pasukan Mongol, maka negeri Mesir menjadi tumpuan harapan umat Islam di
sekitarnya. Penguasa-penguasa Syiria menyatakan setia kepada penguasa Mamalik.
Qutuz
menjadi penguasa dinasti Mamalik menggantikan anak Aybek yang mengundurkan diri
pada tahun 1259 M. Pada masa kekuasaanya itulah Baybars yang mengasingkan diri
ke Syiria sejak masa Aybek karena tidak senang dengan kepemimpinan Aybek
kembali lagi di zaman Qutuz. Dan prestasi monumental di bidang kemiliteran dua
orang ini memang tampak sekali dalam mengalahkan pasukan Mongol di Ain Jalut,
di saat negeri Islam yang lain merasa kesulitan betul untuk dapat mengalahkan
pasukan Mongol.
3. Raja-raja
yang Berkuasa
Raja-raja yang berkuasa pada masa
Dinasti Mamluk Bahri :
a. Syajarah
al-Durr (648 H/1250 M)
b. Izzudin
Ayba
c. Nur
al-Din Ali
d. Saif
al-Din Quthuz
e. Zhahir
Baybars
f. Sa’id
Barakah
g. ‘Adil Badrudin Salamisy
h. Saifuddin
Qalawun
i.
Khalil al-Asyraf
j.
Al-Nashir Muhammad
k. ‘Adil Kitbugha
l.
Manshur Lajin
m. Al-Nashir
Muhammad ibn Qalawun
n. Al-Mudhaffar
Baybars II Abi Syankir
o. Al-Nashir
Muhammad ibn Qalawun
p. Al-Manshur
Abu Bakar ibn Muhammad
q. Asyraf
Kazak (Qujuq) ibn Muhammad
r.
Al-Nashir Ahmad ibn Muhammad
s. Al-Shalih
Ismail ibn Muhammad
t.
Al-Kamil Sha’ban
Raja-raja yang berkuasa pada masa
Dinasti Mamluk Burji :
a. Al-Zhahir
Sayf al-Din Barquq
b. As-Nashir
al-Din Faraj
c. Al-Manshur
‘Izz al- Din Faraj
d. An-Nashir
Farj
e. Al-Adil
al-Musa’im
f. Al-Muayyad
syaikh Al-Mahmudy
g. Al-Muzhaffar
Ahmad
h. As-Zhahir
Sayf al-Din Tatar
i.
Ash-Shalih Nashir al-Din Muhammad
j.
Al-Asyraf Sayf al-Din Barisbay
k. Al-Aziz
Jamal al-Din Yusuf
l.
Azh-Zhahir Sayf al-Din Jaqmaq
m. Al-Manshur
Fakhr al-Din Utsman
n. Al-Asyfar
Sayf al-Din Inal
o. Al-Mu’ayyad
Syihab al-Din Ahmad
p. Azh-Zhahir
Sayf al-Din Khusyqadam
q. Azh-Zhahir
Sayf al-Din Yalbay
r.
Azh-Zhahir Timurbugha
s. Al-Asyraf
Saifuddin Qaytabai
t.
An-Nashir Muhammad
4. Kemajuan-kemajuan
yang Dicapai Dinasti Mamalik
Selama masa
pemerintahannya, Dinasti Mamalik telah mencapai berbagai kemajuan penting di
antaranya adalah konsolidasi pemerintahan, perekonomian, ilmu pengetahuan,
militer, kesenian, dan arsitektur.
a. Bidang
Pemerintahan
Untuk
menjalankan pemerintahan dalam negeri, Baybars mengangkat anggota militer
sebagai elit politik. Pada tahun 1263 M Baybars mengangkat hakim kepala untuk
masing-masing empat mazhab hukum yang utama, seorang syeikh untuk kalangan sufi
dan seorang pemimpin untuk sekumpulan keturunan Nabi. Di samping pengangkatan
hakim ini juga diangkat administrator hukum, profesor, imam sholat, dan pejabat
keagamaan muslim lainnya. Rezim Mamalik ini menggaji semua tokoh-tokoh agama
dengan gaji yang memadai, juga subsidi diberikan kepada madrasah mereka
sehingga semua kegiatan keagamaan masuk ke dalam sebuah sistem birokrasi
negara.
b. Bidang
Militer
Dinasti
Mamalik terkenal ketangguhan pasukan militernya yang sebagian besar berasal
dari pelaut yang kuat, kekar, mempunyai tubuh yang tegap, dan disiplin. Sejak
dari usia 10-20 tahun mereka dilatih dan dididik melalui tahapan pendidikan
militer dari jenjang militer paling awal beralih menjadi pengawal sultan,
kemudian menjadi panglima, dan yang terakhir menjadi sultan. Dalam Dinasti
Mamalik tidak dikenal sistem kekuasaan secara turun temurun. Tetapi siapa yang
berprestasi dan pantas akan diangkat menjadi sultan.
c. Bidang
Ekonomi
Pada
saat Dinasti Mamalik berkuasa, Mesir dan Syiria mengalami kemakmuran ekonomi
yang pesat. Pertumbuhan ini berdampak pada perkembangan pesat di bidang seni
dan budaya, dengan prestasi-prestasi khusus di bidang-bidang seperti
arsitektur, keramik dan karya arsitek dalam logam, dan lain-lain. Selain itu,
posisi Kairo yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah dan kota-kota
sepanjang pesisir selatan ke Eropa menjadi sangat penting, sehingga hubungan
dengan Timur Barat berada di bawah penguasaan Mamalik. Letak dan kondisi
geografis yang strategis ini yang menopang ekonomi Mesir mencapai tingkat
pertumbuhan yang pesat.
d. Bidang
Ilmu Pengetahuan
Sejak
jatuhnya Bani Abbas oleh Hulagu Khan, banyak ilmuan melarikan diri menuju Mesir
dan Syiria. Dengan demikian maka pusat kemajuan ilmu pengetahuan beralih dari
Bagdad ke Mesir. Sultan Baybars selain dikenal sebagai ahli perang juga orang
yang cinta ilmu pengetahuan. Di bidang kedokteran ada ilmuan terkemuka Abul Hasan
Ali bin al-Nafis yang menemukan sistem peredaran darah, Fadail Ibn al-Naqid
seorang ahli mata dan optical dengan karyanya “Mujarabat”. Sedangkan di bidang
ilmu agama, ada beberapa intelektual terkemuka antara lain Jalal al-Din
al-Suyuti, al-Tabary, sejarawan, dan mufassir. Di bidang hadits muncul nama
Ibnu hajar al-Asqalani.
e. Bidang
Arsitektur
Bidang
arsitektur juga mengalami kemajuan, banyak arsitek yang didatangkan ke negeri
Mesir untuk membangun sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah. Ada juga
bangunan lain yang didirikan yaitu museum, perpustakaan, vila-vila, kubah, dan
juga menara masjid. Universitas al-Azhar yang telah lama ditutup kegiatan
intelektualnya karena perbedaan teologis, di masa Dinasti Mamalik dibuka
kembali untuk belajar.
5. Kemunduran
dan Kehancuran Dinasti Mamalik
Dinasti Mamalik setelah
mengalami kejayaan-kejayaan baik di bidang kemiliteran, ekonomi, intelektual,
dan arsitektur kemudian mulai mengalami kemunduran. Kemunduran dan kehancuran
Dinasti Mamalik disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal.
a. Faktor
Internal
Faktor internal yang
dimaksud dalam Dinasti Mamalik adalah perpecahan karena faktor perebutan
kekuasaan di antara keluarga sultan. Sultan Qolawun mempunyai tiga orang anak
yaitu Ila’uddin, Khalil, dan al-Nasir. Seharusnya, Ila’uddin yang menggantikan
ayahnya, tetapi yang terjadi adalah Khalil melakukan pembunuhan terhadap
Ila’uddin dan ia yang kemudian naik tahta. Dan ini berlanjut pada sultan-sultan
sesudahnya. Ketika al-Nasir berkuasa, pungutan pajak yang sangat memberatkan
rakyat juga mulai dilakukan, begitu pula komoditi gula, lada yang berasal dari
India dimonopoli oleh sultan. Kemerosotan ekonomi Dinasti Mamalik semakin
dilengkapi dengan beralihnya jalur dagang Timur-Barat dan Laut Tengah ke
Tanjung Harapan, yang ditemukan oleh Vasco Da Gama tahun 1498.
b. Faktor
Eksternal
Di akhir
periode Dinasti Mamalik muncul sebuah kekuatan baru yaitu Dinasti
Turki Usmani. Situasi tegang hubungan politik antara Turki dengan Mamalik
terjadi akibat dari tindakan Qait Bay yang melindungi saudara Bayazid II, yang
berkuasa di Turki (1481-1512), yang melarikan diri dari Turki ke Mesir. Pada
saat yang bersamaan, muncul pula Dinasti Syafawi di Persia (1502-1736) yang
secara resmi bermazhab Syiah Itsna Asyariah, bersikap frontal terhadap Dinasti
Usmani yang menganut mazhab sunni di Turki. Perbedaan aliran mazhab dan ambisi
ingin menguasai daerah yang lebih luas, menyebabkan kedua dinasti ini sejak
awal sudah diwarnai permusuhan.
Ketika
terjadi perang antara Turki Usmani dengan Mamalik di sekitar Marj Dabiq (1516),
beberapa amir yang terlibat di dalam pertempuran itu berkhianat termasuk Khair
Bay seorang amir Aleppo yang dipercainya untuk mengatur siasat perang oleh
al-Ghuri. Akhirnya kekalahan telak dialami Tumam Bay (1516-1517), sebagai
pengganti al-Ghuri, tentara Turki sudah menembus hingga ke selatan Mesir. Pertempuran
terjadi pada tanggal 22 Juni 1517 antara pasukan Tumam Bay dengan pasukan
Sultan Salim di luar kota Kairo yang berakhir dengan kemenangan dipihak Salim.
Dengan kekalahan ini, berakhirlah kekuasaan Dinasti Mamalik yang telah
berkuasa di Mesir sekitar dua setengan abad.
B.
Kerajaan
Safawi di Persia
1. Kerajaan
Safawi
Ketika
kerajaan Utsmani sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Safawi di Persia
baru berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam perkembangannya,
kerajaan Safawi sering bentrok dengan Turki Utsmani.
Berbeda
dari dua kerajaan besar Islam lainnya (Utsmani dan Mughal), kerajaan Safawi
menyatakan Syi’ah sebagai madzhab negara. Kerajaan Safawi berasal dari
sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat
ini diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan
dengan berdirinya kerajaan Utsmani. Nama Safawi diambil dari nama pendirinya,
Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai
tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama tersebut terus dilestarikan
setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.
Dalam
kecenderungan memasuki dunia politik dan perluasan politik keagamaan, kerajaan
Safawi mendapat wujud konkretnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460
M). Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa
Kara Koyunlu (domba hitam), dalam konflik tersebut Juneid kalah dan diasingkan
kesuatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapatkan perlindungan dari Diyar Bakr,
Al-Koyunlu (domba putih) yang dinggal di istana Uzun Hasan. Kemudian ia
beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan, ia juga mempersunting saudara
perempuan Uzun Hasan. Pada saat ia mencoba merebut Sircassia (1460 M), ia
sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut.
Ketika
itu anak Juneid, Haidar, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan
secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat
setelah Haidar mengawini salah seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini
lahirlah Ismail yang dikemudian hari menjadi pendiri kerajaan safawi di Persia.
Gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival
politik oleh Al Koyunlu. Padahal, Safawi adalah sekutu dari Koyunlu. Ketika
Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasuka Sirwan, Al Koyunlu mengirim
bantuan militer kepada Sirwan sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri
terbunuh dalam peperangan itu.
Ali,
putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentara untuk menuntut balas atas
kematian ayahnya terutama terhadap Al Koyunlu. Tetapi Ya’kub pemimpin Al
Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan ali bersama saudaranya, Ibrahim,
Ismail, dan Ibunya, di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Mereka
dibebaskan oleh Rustam, putra makhota Al Koyunlu, dengan syarat mau membantunya
memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Rustam dapat dikalahan. Ali
bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi tidak lama kemudian Rustam berbalik
memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan ini (1494
M).
Kepemimpinan
gerakan safawi, selanjutnya berada ditangan Ismail. Pada tahun 1501 M,
pasukan Qizilbash (pasukan baret merah) menyerang dan mengalahkan Al
Koyunlu di Sharur dan memasuki serta menaklukkan Tabriz, ibukota Al Koyunlu, di
Kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama dinasti Safawi.
Ia juga disebut Ismail I.
Ismail
I berkuasa selama 23 tahun, sepuluh tahun pertama ia dapat meluaskan wilayah
kekuasaan ke berbagai daerah. Pada tahun 1503 M. Ia berhasil menghancurkan
sisa-sisa kekuatan Al-Koyunlu di Hamadan. Tahun 1504 M ia menguasai provinsi
Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd. Tahun 1505-1507 M. Ia menguasai Diyar
Bakr. Tahun 1508 M, menguasai Baghdad dan daerah barat daya Persia. Tahun 1509
M, menguasai Sirwan. Tahun 1510 M, mengalahkan Syaibak Khan, keturunan Jenghis
Khan, dan menguasai Khurasan, Heart dan Merv. Dalam tempo sepuluh tahun itu
wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Persia dan bagian Timur Bulan Sabit Subur
( Fertile Crescent) yaitu wilayah di Asia membentang dari laut Tengah
melalui daerah antara sungai Tigris dan sungai Eufrat hingga teluk Persia.
Peperangan
dengan Turki Utsmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tabriz.
Ismail menjumpai saingan saingan kepala batu yaitu Sultan Salim I dari Turki.
Peperangan ini, berasal dari kebencian Salim dan pengejaran terhadap seluruh
umat muslim di Syi’ah di daerah kekuasaannya. Fanatisme Sultan Salim memaksanya
untuk membunuh 40.000 orang yang didakwah setelah mengingkari ajaran-ajaran
sunni. Dalam peperangan ini Ismail mengalami kekalahan. Namun, kerajaan
Safawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Utsmani ke Turki karena trejadi
perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya.
Peperangan
antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman
pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad
Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Safawi dalam
keadaan lemah.
Kondisi
memperihatinkan ini baru bisa di atasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I,
naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588 sampai dengan 1628 M.[9] langkah-langkah-langkah
yang di tempuh Abbas I dalam rangka memulihkan politik kerajaan Safawi
adalah :
a.
Mengadakan pembenahan administrasi
dengan cara pengaturan dan pengontrolan dari pusat.
b.
Pemindahan ibukota ke Isfahan.
c.
Berusaha menghilangkan dominasi pasukan
Qiziblash atas kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang
aggotanya terdiri atas budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa
Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak Raja Tamh I.
d. Mengadakan
perjanjian perdamaian dengan Turki Utsmani.
e.
Berjanji tidak akan menghina tiga
khalifah pada khotbah Jum’at.
Usaha-usaha
yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi kuat kembali.
Setelah itu Abbas I muai memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut
kembali wilayah-wilayah kekuasaan yang hilang. Pada tahun 1602 M, pasukan Abbas
I berhasil menguasai Tabriz, Sirwan, dan Baghdad, sedangkan kota-kota
Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis dapat dikuasai tahun 1605-1606 M.
Selanjutnya pada tahun 1622 pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz
dan merubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.
2. Kemajuan-kemajuan Kerajaan Safawi
Masa
kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Ia berhasil
mengatasi gejolak politik yang mengganggu stabilitas negara, dan sekaligus ia
berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan yang sebelumnya lepas
tersebut oleh kerajaan Utsmani. Berikut kemajuan-kemajuan yang ditorehkan
selama Abbas I memegang kekuasaan kerajaan Safawi :
a. Bidang
Ekonomi
Bukti nyata
perkembangan perekonomian Safawi adalah dikuasainya Kepulauan Hurmusz dan
pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas pada masa Abbas I. Maka salah satu
jalur dagang menghubungkan antara Timur dan Barat sepenuhnya menjadi pemilik
kerajaan safawi. Disamping di sektor perdagangan, kerajaan safawi juga
mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Fortille
crescent).
b. Bidang
Ilmu Pengentahuan
Bangsa persia dalam
sejarah islam dianggap berjasa besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Maka
tidak mengherankan apabila kondisi tersebut terus berlanjut, sehingga muncul
ilmuan seperti Baha al-Din Asy-syaerozi, Sadar al-Din Asy-Syaerozi,
Muhammad al-Baqir al-Din ibn Muhammad Damad, masing-masing ilmuan di bidang
filasafat, sejarah, teologi, dan ilmu umum.
c. Bidang
seni
Kemajuan seni
arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah
ibukota kerajaan ini, sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang
memanjang di atas Zende Rud dan istana Chihilsutun kota Isfahan turut
diperindah dengan kebun wisata.`
3. Kemunduran dan
Kehancuran Kerajaan Safawi
Sepeninggal
Abbas I kerajaan Safawi berturut-turut di perintah oleh enam raja, yaitu Safi
Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman ( 1667-1694 M), Husain
(1694-1722 M), Tahmaps II (1722-1732 M), dan Abbas III (1733-1736 M). Pada
masa-masa raja tersebut, kondisi kerajaan safawi tidak menunjukkan grafik naik
dan berkembang tetapi malah memperlihatkan kemunduranyang akhirnya membawa
kepada kehancuran.
Pada
saat kedudukan Sulaiman digantikan oleh Shah Husain. Para ulama Syi’ah
mendapatkan kekuasaan dan sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut
aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afganistan
sehingga mereka memberontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan dinasti Safawi.
Selain
itu diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah
konflik berkepanjangan dengan kerajaan Turki Utsmani. ketika mencapai kedamaian
pada masa Abbas I, tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut dan
tidak ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan besar islam itu.
Sebab
lainnya yaitu dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan
Safawi. Seperti Sulaiman yang pecandu berat narkotika serta kehidupan malamnya.
Begitu pula degan Sultan Husein.
Penyebab
penting lainnya yaitu karena pasukan Gulham tidak memiliki semangat perang yang
tinggi seperti Qizilbash.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
pemaparan di atas dapat kita ketahui bahwa kata Mamalik merupakan bentuk jamak
dari mamluk yang bararti budak. Dinasti ini disebut dengan mamalik karena
memang didirikan oleh para budak. Orang-orang mamalik itu awalnya adalah mereka
yang menjadi tawanan dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh Shalahuddin
al-Ayyubi yang kemudian dididik menjadi tentara. Dinastik ini berkuasa
tahun 648-935 H/1250-1517 M di Mesir. Kaum Mamalik yang memerintah di Mesir
mereka dibedakan menjadi dua suku. Pertama Mamalik Bahri (648-792 H/1250-1390
M). Kedua, Mamalik Burji (784-922 H / 1382-1517 M).
Kerajaan
Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota
di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu
yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Utsmani. Nama Safawi diambil
dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama Safawi itu terus
dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama tersebut
terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.
B. Saran
Demikianlah tugas penyusunan
makalah “Dinasti Mamalik di Mesirdan Kerajaan Safawi di Persia”.
Harapan adanya makalah ini, bisa menjadikan kita untuk lebih
memahami tentang periode Dinasti Mamalik di Mesir. Serta dengan harapan semoga
dapat dipahami dan bermanfaat bagi para pembaca. Kritik dan saran sangat kami
harapkan, mengingat makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Din Muhyl ibn Abd al-zahir, 1961, Tasyrif
al-Ayyum, wa al-Ushul fi Sirah al-Malik al-Mansur, Wt Irsad, Mesir.
Anonim, Makalah Sejarah Peradaban
Islam tentang Dinasti Mamluk, diakses
Fu’adi Imam, 2012, Sejarah
Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, Teras, Cet 1, Yogyakarta.
Halim Abd. ’Uwais, 1990, Analisa
Daulah-Daulah Islam, Pustaka Mantik, Penterjemah: Yudiancs, Solo.
Khoiriyah, 2012, Reorientasi
Warisan Sejarah Islam, Teras, Cet 1, Yogyakarta.
Nasution Syamruddin, 2013, Sejarah
Peradaban Islam, Yayasan Pusaka, Riau.
Nur Abdullah, 2005, Dinasti Mamalik
di Mesir, Jurnal Hunafa, Vol. 2, No. 2.
Komentar
Posting Komentar