Makalah hubungan antara manajemen berbasis sekolah dengan peningkatan mutu pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Manajemen sekolah merupakan faktor yang
paling penting dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di sekolah yang
keberhasilannya diukur oleh prestasi yang didapat, oleh karena itu dalam
menjalankan kepemimpinan, harus menggunakan suatu sistem, artinya dalam
penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang di dalamnya terdapat
komponen-komponen terkait seperti guru-guru, staff TU, orang tua siswa,
masyarakat, pemerintah, anak didik, dan lain-lain harus berfungsi optimal yang
dipengaruhi oleh kebijakan dan kinerja pimpinan.
Tantangan lembaga pendidikan (sekolah)
adalah mengejar ketertinggalan artinya kompetisi dalam meraih prestasi terlebih
dalam menghadapi persaingan global, terutama dari Sekolah Dasar dimana
jenjang dasar ini diharapkan peserta didik dapat memperoleh bekal
pengetahuan, sikap dan keterampilan dari dasar, sehingga akan mempermudah
melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Tantangan ini akan dapat teratasi
bila pengaruh kepemimpinen sekolah terkonsentrasi pada pencapaian sasaran
dimaksud.
Pengaruh kepemimpinan Kepala Sekolah
disamping mengejar ketinggalan untuk mengatasi tantangan tersebut di atas,
hal-hal lain perlu diperhatikan: Ciptakan keterbukaan dalam proses
penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Ciptakan iklim kerja yang
menyenangkan Berikan pengakuan dan penghargaan bagi personil yang berprestasi.
Tunjukan keteladanan, terapkan fungsi-fungsi manajemen dalam proses
penyelenggaraan pendidikan, seperti: Perencanaan Pengorganisasian Penentuan
staff atas dasar kemampuan, kesanggupan dan kemauan. Berikan bimbingan dan
pembinaan kearah yang menuju kepada pencapaian tujuan adalah kontrol terhadap
semua kegiatan penyimpangan sekecil apapun dapat ditemukan sehingga cepat
teratasi. Adakan penilaian terhadap semua program untuk mengukur keberhasilan
serta menemukan cara untuk mengatasi kegagalan. Dalam makalah ini, akan dibahas
salah satu model dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, yakni Manajemen
Berbasis Sekolah.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan di atas, yang menjadi pokok permasalahan
dalam makalah ini adalah :
1. Apa
pengertian manajemen sekolah?
2. Apa
yang dimaksud Manajemen berbasis sekolah?
3. Apa
pengertian mutu pendidikan?
4. Apa
Implikasi Konsep Mutu Dalam Pendidikan?
5. Bagaimana
strategi dalam peningkatan mutu pendidikan melalui MBS?
6.
Hubungan Antara Manajemen Berbasis
Sekolah Dengan Peningkatan Mutu Pendidikan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Manajemen Sekolah
Menurut Stoner Manajemen secara umum
yang dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota
organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Sedangkan dalam konteks sekolah yaitu
Manajemen sekolah menurut buku manajamen sekolah sebenarnya merupakan aplikasi
ilmu manajemen dalam bidang persekolahan. Ketika istilah manajemen diterapkan
dalam bidang pemerintahan akan menjadi manajemen pemerintahan, dalam bidang
pendidikan menjadi manajemen pendidikan, begitu seterusnya[1].
Sedangkan menurut James Jr.
manajemen sekolah adalah proses pendayagunaan sumber-sumber manusiawi bagi
penyelenggara sekolah secara efektif. Sedangkan dalam konteks pendidikan ada
juga manajemen pendidikan.
Menurut Ali Imron manajemen pendidikan
adalah proses penataan kelembagaan pendidikan, dengan melibatkan sumber
potensial baik yang bersifat manusia maupun yang bersifat non manusia guna
mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Pada hakekatnya istilah manajemen
pendidikan dan manajemen sekolah mempunyai pengertian dan maksud yang sama.
Keduanya susah untuk dibedakan karena sering dipakai secara bergantian dalam
pengertian yang sama. Apa yang menjadi bidang manajemen pendidikan adalah juga
merupakan bidang manajemen sekolah. Demikian pula proses kerjanya ditempuh
melalui fungsi-fungsi yang sama, yang diturunkan dari teori administrasi dan
manajemen pada umumnya.
Dalam konteks pendidikan, memang masih
ditemukan kontroversi dan inkonsistensi dalam penggunaan istilah manajemen. Di
satu pihak ada yang tetap cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga
dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula
yang menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi
pendidikan. Dalam studi ini, penulis cenderung untuk mengidentikkan keduanya,
sehingga kedua istilah ini dapat digunakan dengan makna yang sama[2].
B.
Manajemen Berbasis Sekolah
1.
Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS)
Istilah manajemen berbasis sekolah
merupakan terjemahan dari “school-based management”. MBS merupakan
paradigma baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (
pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.
Menurut Edmond yang dikutip Suryosubroto
merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan
kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Nurcholis mengatakan Manajemen
berbasis sekolah (MBS) adalah bentuk alternatif sekolah sebagai hasil dari
desentralisasi pendidikan.
Secara umum, manajemen peningkatan mutu
berbasis sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang
memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan
keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga
sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa, dan
masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan
nasional.
Lebih lanjut istilah manajemen sekolah
acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Berkaitan dengan
itu, terdapat tiga pandangan berbeda; pertama, mengartikan administrasi lebih
luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi); kedua,
melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi (administrasi merupakan
inti dari manajemen); dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan
administrasi.
Dalam hal ini, istilah manajemen
diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan, yaitu segala usaha
bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber, baik personal maupun material,
secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di
sekolah secara optimal. Pengertian manajemen menurut Hasibuan merupakan ilmu
dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber
lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi
manajemen tersebut menjelaskan pada kita bahwa untuk mencapai tujuan tertentu,
maka kita tidak bergerak sendiri, tetapi membutuhkan orang lain untuk
bekerja sama dengan baik.
Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah
manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, yaitu: merencanakan
(planning), mengorganisasikan (organizing), mengarahkan (directing),
mengkoordinasikan (coordinating), mengawasi (controlling), dan mengevaluasi
(evaluation).
Menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa
manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang
sistematik, sitemik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.
2. Tujuan
MBS
a. Meningkatkan
mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam megelola dan
memberdayakan sumber daya yang tersedia;
b. Meningkatkan
kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
melalui pengambilan keputusan bersama;
c. Meningkatkan
tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang
mutu sekolahnya; dan
d. Meningkatkan
kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.
Kewenangan yang bertumpu pada sekolah
merupakan inti dari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi
serta memberikan beberapa keuntungan berikut:
a. Kebijaksanaan
dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik, orang
tua, dan guru.
b. Bertujuan
bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal.
c. Efektif
dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran, hasil belajar,
tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru, dan iklim sekolah.
d. Adanya
perhatian bersama untuk mengambil keputusan, memberdayakan guru, manajemen
sekolah, rancangan ulang sekolah, dan perubahan perencanaan[3].
3. Manfaat
MBS
MBS
memberikan beberapa manfaat diantaranya
a. Dengan
kondisi setempat, sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat
lebih berkonsentrasi pada tugasnya;
b. Keleluasaan
dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk
berpartisipasi, mendorong profesionalisme kepala sekolah, dalam peranannya
sebagai manajer maupun pemimpin sekolah;
c. Guru
didorong untuk berinovasi;
d. Rasa
tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan
pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik.
C.
Mutu Pendidikan
Dalam pandangan Umaedi (2004), mutu
dapat diartikan sebagai derajat keunggulan sesuatu barang atau jasa
dibandingkan dengan yang lain. Mutu dapat bersifat abstrak, misal dalam cara
hidup yang bermutu, sikap hidupyang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianggap
luhur dan sangat dihormati. Mutu dalam pendidikan dapat ditinjau dari segi
relevansinya dengan kebutuhan masyarakat, cepat tidaknya lulusan memperoleh
pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan di dalam mengatasi berbagai
persoalan hidup. Mutu pendidikan dapat ditinjau dari manfaat pendidikan bagi
individu, masyarakat, dan bangsa atau negara. Secara spesifik, ada yang melihat
mutu pendidikan dari segi tinggi dan luasnya ilmu pengetahuan yang dicapai oleh
seseorang yang menempuh pendidikan.
Disamping hal diatas, ada yang
berpendapat bahwa pendidikan yang bermutu mengacu pada berbagai input (masukan),
seperti tenaga pengajar, peralatan, buku, biaya pendidikan, teknologi, dan
iput-input lainnya yang diperlukan dalam proses pendidikan. Ada pula yang
sangat getol berorientasi pada proses, dengan argumen bahwa proses
pendidikan itu yang paling menentukan kualitas sehingga kalau harus menentukan
kualitas/mutu maka proseslah yang harus diamati dan menjadi fokus perhatian.
Pada saat ini, tampaknya banyak disadari
bahwa antara berbagai input dan konteks, proses, dan output atau hasil perlu
memperoleh perhatian yang seimbang, bahkan untuk menjamin mutu, langkah-langkah
sudah dimulai dari misi, tujuan, sasaran, dan target dalam bentuk desain
perencanaan yang mantap. Para pendidik harus selalu sadar akan hasil yang
diperoleh bagi siswa setelah melalui proses pembelajaran tertentu, dan gambaran
akan hasil yang ingin dicapai itu pada gilirannya akan memberikan motivasi
untuk mengupayakan input dan proses yang tepat.
Dari segi lingkup kompetensi yang harus
dicapai begitu luas (Sesuai fungsi pendidikan) maka pandangan tentang mutu juga
dalam arti yang luas meliputi berbagai spektrum (berbagai kompetensi), bukan
hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga afektif, psikomotor, dan bahkan
spiritual. Mutu tidak hanya terfokus pada pencapaian prestasi akademis (academik
achievement), teteapi juga bidang-bidang nonakademik, seperti prestasi seni,
keterampilan sosial, keterampilan vikasional, keterampilan sosial, seperti budi
pekerti.
D.
Implikasi Konsep Mutu Dalam Pendidikan
Berdasarkan praktik penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia selama ini, dan langkah-langkah yang telah dirintis
(baik oleh pemerintah maupun masyarakat) serta kebijakan ke depan, konsep mutu
dianut secara sinergis, bersamaan, dan saling melengkapi. Di Indonesia dikenal
adanya sekolah-sekolah unggulan (sebagai nama “generik”, bukan nama diri suatu
sekolah) baik yang diprakarsai oleh pemerintah maupun yang tumbuh atas prakarsa
masyarakat termasuk dunia usaha.
Mutu dalam pengertian relatif (standar)
diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia, antara ain terbukti dengan
adanya kurikulum nasional yang memberikan perincian tujuan yang ingin dicapai,
rumusan standar
Kompetensi yang diinginkan, standar isi,
dan sistem penilaian yang diantaranya berupa ujian nasional. Ujian nasional
sebagai alat pengukur (penerapan standar) pencapaian standar kompetensi, juga
menjadi standar yang dapat dinaikkan atau diturunkan derajat kualitasnya sesuai
kesepakatan. Kalau hasil ujian nasional secara keseluruhan memuaskan,
standarnya secara berangsur-angsur dinaikkan dan hal ini dikaitkan dengan upaya
peningkatan mutu pendidikan untuk mencapai standar mutu yang lebih tinggi.
Disamping standar nasional, terdapat standar lokal maupun sekolah. Ketentuan
tentang standar nasional dapat dilihat pada Bab IX, Pasal 35 UU Sisdiknas Nomor
20 Tahun 2003. Di luar standar yang sifatnya substantif (berhubungan dengan
kompetensi yang harus dicapai), pemerintah juga melakukan pengecekan standar
yang berkaitan dengan kinerja satuan pendidikan dan kelayakan pengelolaan
satuan pendidikan melalui sistem akreditasi[4].
E.
Manajemen berbasis Sekolah dan Strategi
Peningkatan Mutu Pendidikan
Konsep MBS merupakan kebijakan baru yang
sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. Salah satu strategi
adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni
1. Peningkatan
kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua
siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang
mengiringi penerapan kebijakan MBS. ”An essential point is that schools and
teachers will need capacity building if school-based management is to work”.
Demikian De grouwe menegaskan.
2. Membangun
budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel.
Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada
masyarakat. Model memajangkan RAPBS di papan pengumuman sekolah yang dilakukan
oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif.
Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet, leaflet, atau poster
tentang rencana kegiatan sekolah. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan
ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut.
3. Pemerintah
pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Dengan kata lain,
pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam
rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah, termasuk pelaksanaan
block grant yang diterima sekolah.
4. Mengembangkan
model program pemberdayaan sekolah. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan
MBS, yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah.
Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih
memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa
penataran MBS.
Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif
dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut:
1.
Mampu memberdayakan guru-guru untuk
melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif.
2.
Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan
sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
3.
Mampu menjalin hubungan yang harmonis
dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka
mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.
4.
Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan
yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah.
5.
Bekerja dengan tim manajemen
6.
Berhasil mewujudkan tujuan sekolah
secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Satu cara yang berguna dalam
menyimpulkan adalah melihat tantangan sebagai satu cara menciptakan suatu jenis
sistem pendidikan baru yang sesuai abad ke-21. Kita membutuhkan sistem-sistem
baru yang terus-menerus mampu merekonfigurasi kembali dirinya untuk menciptakan
sumber nilai publik baru. Ini berarti secara interaktif menghubungkan
lapisan-lapisan dan fungsi tata kelola yang berbeda, bukan mencari cetak biru
(blueprint) yang statis yang membatasi berat relatifnya. Pertanyaan mendasar
bukannya bagaimana kita secara tepat dapat mencapai keseimbangan yang tepat antara
lapisan-lapisan pusat, regional, dan lokal atau antara sektor-sektor berbeda:
publik, swasta, dan sukarela. Justeru, kita perlu bertanya Bagaimana suatu
sistem secara keseluruhan menjadi lebih dari sekedar jumlah dari
bagian-bagiannya?. Secara sederhana dikatakan, manajemen berbasis sekolah
bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah.
Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar, ia menjadi satu dari sekian
strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang
melibatkan pemerintah, penyelenggara, dewan manajemen sekolah dalam satu sistem
sekolah[5].
F.
Hubungan Antara Manajemen Berbasis
Sekolah Dengan Peningkatan Mutu Pendidikan
Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan mutu pendidikan:
1. Delegasi
kewenangan
MBS memberikan
otonomi kepada sekolah untuk mengambil keputusan penting terkait pendidikan.
2.
Partisipasi masyarakat
MBS melibatkan
seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat, dalam pengambilan keputusan dan
peningkatan mutu pendidikan.
3.
Peningkatan efisiensi
MBS meningkatkan
efisiensi melalui penyederhanaan birokrasi, partisipasi masyarakat, dan
keleluasaan mengelola sumber daya.
4.
Peningkatan kepedulian masyarakat
MBS bertujuan
meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan.
5.
Peningkatan tanggung jawab sekolah
MBS bertujuan
meningkatkan tanggung jawab sekolah atas mutu pendidikan yang dicapai.
6.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia
MBS bertujuan
memperbaiki kinerja sumber daya manusia dan meningkatkan kualitasnya.
Beberapa faktor pendukung dalam
implementasi MBS adalah:
a.
Adanya
hubungan dan kerja sama yang baik antara guru, kepala sekolah, orang tua
peserta didik, masyarakat, dan pemerintah.
b.
Tersedianya
guru yang memadai.
c.
Tersedianya
sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar mengajar.[6]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
MBS
adalah suatu manajemen yang menggunakan sumber daya secara efektif untuk
mencapai sasaran. Berbasis memiliki karta dasar basis yang berarti dasar atau
asas. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima
dan memberikan pelajaran. MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber daya
yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau
pembelajaran.
Dalam
konteks manajemen pendidikan menurut MBS, berbeda dari manajemen pendidikan
sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintah pusat. Sebaliknya,
manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumber daya yang ada
disekolah itu sendiri. Dengan demikian, akan terjadi perubahan paradigma
manajemen sekolah, yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah
menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu
sendiri.
Implementasi
MBS akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila didukung oleh sumber
daya manusia yang professional untuk mengoprasikan sekolah, dan yang cukup agar
sekolah mampu menggaji staf sesuai dengan fungsinya, sarana dan prasarana yang
memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta dukungan orang tua siswa
atau masyarakat yang tinggi.
Secara
sederhana dikatakan, manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang
akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. Bila diimplementasikan dengan
kondisi yg benar, ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam
pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah,
penyelenggara, dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah.
B. Saran
Dalam
upaya meningkatkan mutu pendidikan, sangat dibutuhkan partisipasi dari semua
lapisan masyarakat. Terlebih khusus ditujukan kepada guru dan staff organisasi
sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah mempunyai peranan yang penting dalam
mengepalai organisasi sekolah agar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan.
Dengan
adanya suatu organisasi di bidang pendidikan, diharapkan pelaksanaan pendidikan
di Indonesia akan semakin tertata secara baik. Oleh karena itu diharapkan para
pelaksana dan pendukung dalam pengorganisasian ini perlu melaksanakan tugasnya
dengan baik dan penuh tanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa.
E , Manajemen Berbasis Madrasah, (PT Remaja Rosdakarya.,
Bandung, 2004)
Mulyasa.
E , Manajemen Berbasis Sekolah, (PT Remaja Rosdakarya.,
Bandung, 2002)
Direktorat Pendidikan
Luar Biasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Jakarta: Direktorat
Pendidikan Luar Biasa, 2008)
Sutomo
dkk. 2011. Manajemen Sekolah. Semarang: UNNES Press
Umaedi,
Hadiyanto dan Siswantari. 2009. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta:
Universitas terbuka
[1]
Sutomo
dkk. Manajemen Sekolah. (Semarang: UNNES Press. 2011) H 72
[2]
Umaedi,
Hadiyanto dan Siswantari. Manajemen Berbasis Sekolah. (Jakarta: Universitas
terbuka. 2009) H 82
[3]
Direktorat Pendidikan Luar
Biasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Jakarta: Direktorat Pendidikan
Luar Biasa, 2008) H 84
[4]
Sutomo dkk. Manajemen
Sekolah. (Semarang: UNNES Press. 2011) H 62
[5]
Umaedi, Hadiyanto dan
Siswantari. Manajemen Berbasis Sekolah. (Jakarta: Universitas terbuka. 2009) H
68
[6]
Sutomo
dkk. Manajemen Sekolah. (Semarang: UNNES Press. 2011) H 73
Komentar
Posting Komentar