MAKALAH DATA HASIL KUESIONER PENGARUH ICE BREAKING TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ice breaking merupakan aktivitas yang dapat digunakan untuk
memecahkan suatu kejenuhan kebekuan suasana dalam belajar sehingga dapat
menjadi mencair dan suasana bisa kembali pada keadaan semula atau menjadi lebih
kondusif. Pelaksanaan ice breaking dapat dilakukan dimana saja seperti di dalam
ataupun di luar kelas dengan catatan disesuaikan space ruang yang dibutuhkan.
Permainan penyegaran atau biasa disebut juga ice breaking yaitu suatu kegiatan
yang dilakukan untuk mencairkan suasana dalam pembelajaran yang kaku, pasif dan
membosankan menjadi suasana belajar yang menyenangkan, bersemangat, aktif dan
meningkatkan motivasi untuk belajar lebih bergairah. Proses pembelajaran yang
terlalu kaku tanpa sedikit ada suasana kegembiraan tentu saja akan terasa
sangat membosankan.
Penggunaan ice breaking dalam proses pembelajaran perlu
mempertimbangkan prinsip-prinsip efektifitas, minat dan motivasi, tidak
berlebihan, tidak mengandung unsur sara, serta tidak mengandung unsur
pornografi.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian ice breaking?
2. Apa saja tujuan dan fungsi dari ice
breaking?
3. Apa saja teknik-teknik penerapan ice
breaking dalam pembelajaran?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan
ice breaking?
5. Bagaimana hasil olah data kuesioner
dari pengaruh ice breaking terhadap motivasi belajar siswa?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian ice breaking.
2.
Untuk
mengetahui tujuan dan fungsi dari ice breaking.
3.
Untuk
mengetahui teknik-teknik penerapan ice breaking dalam pembelajaran.
4.
Untuk
mengetahui kelebihan dan kekurangan ice breaking.
5.
Untuk
mengetahui hasil olah data kuesioner dari pengaruh ice breaking terhadap
motivasi belajar siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ice Breaking
Menurut M.Said (2010:1) menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan ice breaking adalah permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk
mengubah suasana kebekuan dalam kelompok. [1]
Menurut Wulandari (2018:6) menyatakan bahwa penggunaan
ice breaking dapat mencipatakan suasana yang menyenangkan, mendorong siswa
lebih kreatif, dan berani dalam mengungkapkan ide-ide maupun gagasannya. [2]Hal
senada diutarakan oleh Susanah (2014 : 46), yang menyebutkan bahwa ice breaking
yang dikaitkan dengan materi pelajaran dapat melatih daya tangkap siswa,
memberikan kesempatan siswa untuk berkonsentrasi, serta membangun kekompakan
dalam kelompok.
Selanjunya Pratiwi, mengartikan bahwa ice breaking
adalah sebuah kegiatan yang dimaksudkan untuk membangun motivasi dan suasana
belajar yang sangat dinamis, penuh semangat dan antusiasme yang berfungsi untuk
memecah kebekuan dan untuk membangkitkan motivasi belajar sehingga terciptanya
suatu kondisi pembelajaran yang menyenangkan.
Lebih lanjut Sunarto, mengungkapkan bahwa ice breaking
dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat,
antusias, dan menyenangkan serta serius tapi santai. Melalui ice breaking
diharapkan suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, siswa tidak lagi merasa
bosan, lebih bersemangat, dan dapat meningkatkan hasil belajar.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, ice breaking
dapat diartikan sebagai pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik siswa. Ice
breaking juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh
semangat, dan antusiasme.
B. Tujuan
Dan Fungsi Ice Breaking
Menurut Sunarto (2012 : 4) tujuan
penggunaan ice breaking antara lain yaitu: [3]
1)
Menghilangkan pembatas di antara peserta
didik.
2)
Menciptakan suasana yang dinamis bagi
peserta didik.
3)
Meningkatkan aktivitas selama proses
pembelajaran sehingga meningkatkan motivasi antar peserta didik.
4)
Menghilangkan jarak mental sehingga
menjadikan suasana leih rileks dan menjadikan peserta didik saling mengenal
satu sama lain.
5)
Membuat peserta didik lebih fokus.
Menurut Said (dalam Wahyuni : 2019) ice
breaking dapat dipergunakan sebagai energizer (daya pembangkit). Daya
pembangkit disini merupakan permainan yang dipergunakan untuk menyuntikkan
tenaga baru sehingga menurunkan ketegangan dan meningkatkan semangat. Penurunan
semangat ini biasanya juga terjadi setelah istirahat. [4]
Adapun yang perlu diperhatikan dalam
penggunaan ice breaking antara lain:
1)
Hendaknya pendidik melakukan pengujian
terlebih dahulu waktu yang diperlukan serta memperhatikan kecocokan materi
dengan metode Ice Breaking sebelum menerapkannya.
2)
Menjadikan metode ice breaking sebagai energizer
(pembangkit) motivasi.
3)
Menggunakan metode ice breaking dengan
memperhatikan sistem waktu, ruang, jumlah, dan mutu.
Menurut
Ambini (2016 : 2) menggunakan ice breaking berfungsi untuk menghindari suasana
beku dalam kelas sehingga pembelajaran lebih aktif dan terfokusnya kembali
konsentari peserta didik. Dari beberapa uraian diatas, fungsi dari metode ice
breaking yakni sebagai pemberi energi baru. Energi ini merupakan permainan yang
berguna untuk menghilangkan jenuh, mengantuk dan meningkatkan kembali semangat
peserta didik.[5]
Menurut Suryoharjuno (2017 : 1) Fungsi
ice breaking untuk sebuah proses belajar, yaitu sebagai energizer sebelum
pemberian materi utama, memecah kebekuan, memberikan pencerahan disaat
mengalami kejenuhan dan mampu membangkitkan gairah belajar sehingga memberikan
kesan yang menyenangkan ketika belajar.
Menurut (Achmad Fanani : 2010) Fungsi
ice breaking antara lain melatih berpikir secara kreatif, mengoptimalkan otak
dan kreativitas peserta didik, melatih konsentrasi, berani dan tidak takut
salah dan melatih jiwa kepemimpinan.
Manfaat yang dapat diperoleh dari
penggunaan teknik ice breaking menurut Fanani (2010 : 69) adalah: [6]
1)
Menghilangkan kebosanan, kejenuhan,
kecemasan, dan keletihan karena bisa keluar dari rutinitas pelajaran dengan
melakukan aktivitas gerak bebas dan cerita.
2)
Melatih berpikir pesrta didik secara
kreatif.
3)
Mengembangkan dan mengoptimalkan
kreativitas peserta didik.
4)
Melatih peserta didik berinteraksi dalam
kelompok dan bekerja sama dalam satu tim.
5)
Melatih berpikir sistematis dan kreatif
untuk memecahkan masalah.
6)
Meningkatkan rasa percaya diri.
7)
Melatih menentukan strategi yang matang.
8)
Melatih kreativitas dengan bahan
terbatas, konsentrasi, merekatkan hubungan interpersonal.
9)
Melatih untuk menghargai orang lain.
Ice
breaking dapat pula digunakan sebagai daya pembangkit (energizer). Energizer
adalah permainanpermainan yang digunakan ketika para peserta tampak dingin atau
kehilangan semangat, jenuh dan mengantuk. Aktivitas ini digunakan sebagai
sarana menurunkan ketegangan dan menyuntikkan tenaga baru. Menurunnya semangat
ini juga bisa terjadi sesudah jeda (break) atau makan siang. Untuk itu,
semangat bermain dan mengkuti training harus dibangkitkan kembali.
Dari
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pentingnya bagi pendidik untuk
menciptaan pelajaran yang menarik agar lebih mudah dipelajari dan menanamkan
kecintaan pada pelajaran tersebut sehingga peserta didik bisa lebih semangat
ketika menerima pelajaran.
C. Teknik-Teknik
Penerapan Ice Breaking Dalam Pembelajaran
Teknik penggunakan ice breaking ada dua
cara menurut Sunarto (2012 : 24) diantaranya yaitu sebagai berikut:[7]
a)
Teknik spontan.
Dalam situasi pembelajaran teknik ice
breaking digunakan secara spontan biasanya digunakan tanpa rencana tetapi lebih
banyak digunakan karena situasi pembelajaran yang ada pada saat itu butuh
penyemangat agar pembelajaran dapat fokus kembali. Ice breaking yang demikian bisa
digunakan kapan saja melihat dituasi dan kondisi yang terjadi pada saat
pembelajaran berlangsung.
b)
Teknik direncanakan.
Dalam situasi pembelajaran bahwa teknik
ice breaking yang baik dan efektif membantu proses pembelajaran adalah ice
breaking yang direncanakan dan dimasukan dalam rencana pembelajaran. Ice
breaking yang direncanakan dan dimasukan dalam rencana pembelajaran dapat
mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
D. Kelebihan
Dan Kekurangan Ice Breaking
Setiap metode pembelajaran pastinya
terdapat kekurangan dan kelebihan masing-masing, tak terkecuali dengan metode
ice breaking. Menurut pendapat Sunarto, bahwa “Kelebihan dari ice breaking
yaitu dapat dipelajari meskipun tidak memiliki keterampilan yang tinggi. Bahkan
ice breaking bisa digunakan dengan berbagai materi-materi yang diajarkan oleh
pendidik. Adapun kelemahan dari ice breaking adalah setiap penggunanya harus
berlatih lebih giat, dikarenakan kebosanan kembali terjadi apabila penggunaan
metode ini tidak sesuai dengan aturan waktu yang telah ditentukan.
Keunggulan metode ice breaking adalah
menambah minat siswa, meningkatkan rasa kerjasama antar siswa, meningkatkan
kreatifitas siswa, dan menumbuhkan kesadaran siswa.
Adapun kekurangannya ialah peserta didik
biasanya jadi lupa waktu dan lebih suka bermain. Dari uraian ahli diatas, dapat
ditarik kesimpulan bahwa keunggulan dari metode ice breaking ialah meningkatkan
minat siswa, meningkatkan kerjasama antar siswa, meningkatkan kreatifitas
siswa, dan menumbuhkan kesadaran siswa. Kelemahan metode ini adalah penerapan
metode ini sangat ditentukan oleh keikut sertaan peserta didik dan saat lupa
waktu siswa malah asyik bermain.
E.
Hasil
Olah Data
1)
Skala yang digunakan dalam kuesioner
adalah skala likert, yaitu;
|
Skala |
Deskripsi |
|
5 |
Sangat setuju |
|
4 |
Setuju |
|
3 |
Kurang setuju |
|
2 |
Tidak setuju |
|
1 |
Sangat tidak setuju |
Skala Likert adalah suatu skala
psikometrik yang umum digunakan dalam angket dan merupakan skala yang paling
banyak digunakan dalam penelitian berupa survei. Skala Likert adalah skala
penelitian yang digunakan untuk mengukur sikap dan pendapat. Dalam skala
likert, responden diminta untuk melengkapi kuesioner yang mengharuskan mereka
untuk menunjukkan tingkat persetujuannya terhadap pertanyaan tertentu. Pertanyaan
atau pernyataan yang digunakan dalam penelitian ini biasanya disebut dengan
variabel penelitian. Data tersebut diperoleh untuk mengetahui pendapat,
persepsi, ataupun sikap seseorang terhadap suatu fenomena yang terjadi.
Sugiyono (2006) mengatakan bahwa skala likert dipergunakan untuk mengukur
sikap, pendapat, dan persepsi terhadap individu atau kelompok yang terkait
dengan fenomena sosial yang sedang menjadi
objek penelitian.[8]
2)
Tabulasi Data
Tabulasi data merupakan proses
pengolahan data yang dilakukan dengan cara memasukkan data ke dalam tabel.
Hasil tabulasi data ini dapat menjadi gambaran tentang hasil penelitian, karena
data-data yang diperoleh dari lapangan sudah tersusun dan terangkum dalam
tabel-tabel yang mudah dipahami maknanya.
|
No. Absen |
ice Breaking |
|||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
|
|
1 |
1 |
2 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
2 |
5 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
3 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
2 |
4 |
4 |
5 |
|
4 |
5 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
3 |
4 |
4 |
|
5 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
6 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
7 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
2 |
4 |
4 |
5 |
|
8 |
5 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
9 |
5 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
10 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
11 |
5 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
12 |
5 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
13 |
4 |
4 |
3 |
4 |
3 |
4 |
2 |
4 |
4 |
5 |
|
14 |
4 |
4 |
5 |
3 |
3 |
4 |
2 |
4 |
4 |
5 |
|
15 |
4 |
4 |
3 |
4 |
3 |
4 |
2 |
4 |
4 |
5 |
|
16 |
4 |
5 |
3 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
17 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
2 |
4 |
4 |
5 |
|
18 |
5 |
5 |
4 |
5 |
5 |
4 |
1 |
4 |
4 |
5 |
|
19 |
3 |
4 |
3 |
5 |
4 |
5 |
4 |
3 |
5 |
4 |
|
20 |
3 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
|
21 |
4 |
5 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
|
22 |
5 |
5 |
3 |
4 |
3 |
4 |
3 |
3 |
4 |
4 |
|
23 |
4 |
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
5 |
4 |
|
24 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
2 |
4 |
4 |
4 |
|
Jumlah
Perolehan Skor |
102 |
105 |
89 |
97 |
91 |
97 |
65 |
92 |
98 |
103 |
|
Rata-Rata |
4,25 |
4,375 |
3,708333 |
4,041667 |
3,791667 |
4,041667 |
2,708333 |
3,833333 |
4,083333 |
4,291667 |
|
Skor
Maksimal |
120 |
120 |
120 |
120 |
120 |
120 |
120 |
120 |
120 |
120 |
|
Total
Perolehan Skor |
939 |
|||||||||
|
Total
Skor Maksimal |
1200 |
|||||||||
|
Presesntase
( Skor Total : Max X 100% ) |
78,
25% |
|||||||||
3)
Skala Presentase
Dalam statistik, skala persentase adalah
cara untuk menyatakan proporsi bagian dari keseluruhan sebagai pecahan dari 100
dan sering dilambangkan dengan tanda %.
|
Skala
Presentase |
Indikator |
|
80% - 100% |
Sangat Baik |
|
70% - 79% |
Baik |
|
60% - 69% |
Sedang |
|
50% - 59% |
Kurang |
|
0% - 49% |
Sangat Kurang |
(Sumber: (Suharsimi
Arikunto, 2016: 245)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pembelajaran dengan menggunakan penerapan ice breaking
memberikan pengaruh cukup baik terhadap semangat belajar peserta didik lebih
baik dan efektif dalam kegiatan pembelajaran dikelas. Pada model pembelajaran
ini peserta didik diajak belajar dengan suasana yang menyenangkan tidak seperti
biasanya yang hanya berlangsung secara satu arah dari guru ke peserta didik..
Dengan menggunakan penerapan pemberian ice breaking, peserta didik menjadi
lebih tertarik dan bersemangat untuk belajar. Pembelajaran menjadi bermakna dan
guru dapat mencapai tujuan pembelajaran dan mutu pendidikan.
Skala likert yang kami gunakan pada makalah ini skala
likert ciptaan Suharsimi Arikunto. Jadi hasil presentasi dari perhitungan
angket pada materi pengaruh ice breaking terhadap motivasi belajar siswa yaitu,
78,25% dengan kriteria skala likert BAIK.
B.
Saran
Penulis menyadari akan kekurangan dalam makalah ini, oleh
karena itu kritik dan saran dari pembaca akan sangat membantu terhadap
penyusunan makalah agar lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
M.Said. 2010.80+ Ice Breaker Games-Kumpulan Permainan Penggugah Semangat.
Yogyakarta: Andi Offset.hlm.1
Wulandari, V. U. (2018). Pengaruh Penerapan Ice Breaker terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan
Sosial Siswa Kelas IV SDN 4 Cakranegara TahunPelajaran 2017/2018.
Universitas Mataram Repository, 1-12.
Sunarto. (2012). Ice Breaker dalam Pembelajaran Aktif. Surakarta: Cakrawala Media.
Wahyuni. 2017. Pengaruh Penggunaan Ice Breaking terhadap hasil belajar pada mata
pelajaran IPS siswa kelas IV SD. Inpres Tamarunang
Ambini, R. (2016). Meningkatkan Motivasi Belajar IPS Melalui Pemberian Ice Breaker pada
Siswa Kelas V SDN Monggang. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 5:1-8.
Fanani. 2010. Ice Breaking Dalam Proses Belajar Mengajar. Jurnal Pendidikan, Vol. 6,
No. 11 2019.
Sugiyono. 2006 . Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung :
Alfabeta.
[1] M.Said. 2010.80+ Ice Breaker Games-Kumpulan
PermainanPenggugah Semangat.Yogyakarta: Andi Offset.hlm.1
[2] Wulandari, V. U. (2018). Pengaruh Penerapan Ice Breaker terhadap
Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IV SDN 4 Cakranegara
TahunPelajaran 2017/2018. Universitas Mataram Repository, 1-12.
[3] Sunarto. (2012). Ice Breaker dalam Pembelajaran Aktif.
Surakarta: Cakrawala Media.
[4] Wahyuni. 2017. Pengaruh Penggunaan Ice Breaking terhadap
hasil belajar pada mata pelajaran IPS siswa kelas IV SD Inpres Tamarunang
[5] Ambini, R. (2016). Meningkatkan Motivasi Belajar IPS Melalui
Pemberian Ice Breaker pada Siswa Kelas V SDN Monggang. Jurnal Pendidikan
Guru Sekolah Dasar. 5:1-8.
[6] Fanani. 2010. Ice Breaking Dalam Proses Belajar Mengajar.
Jurnal Pendidikan, Vol. 6, No. 11 2019.
[7] Sunarto. (2012). Ice Breaker dalam Pembelajaran Aktif.
Surakarta: Cakrawala Media.
[8] Sugiyono . 2006 .
Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung :
Alfabeta.
Komentar
Posting Komentar